Kitab Semesta bagian-23 ( Ayat 2932 S/d 3001)
Ketika engkau membaca sebuah kitab suci, Tuhan seolah berhenti berbicara kepada umatNya pada ayat-ayat yang terakhir.
Namun ada sebuah kitab yang halaman-halamannya tak pernah ada habis-habisnya untuk dibaca , seolah Tuhan hendak selalu berdialog dengan kita, sebuah samudra ilmu tanpa batas.
Itulah yang dinamakan kitab semesta.
Sebuah kitab universal yang mengajarkan hikmah kepada manusia yang beriman; belum ataupun yang tak beriman
Ada baiknya membaca bagian awal Kitab Semesta dengan meng- klik, tautan link di bawah ini :
Kitab Semesta bagian -1 (Ayat 1 s/d 160) :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10222461344992330&id=1530527757 )
Kitab Semesta bagian -2 (Ayat 161 s/d 270) :
Kitab Semesta bagian-3 (Ayat 271 SD 398) :
Kitab Semesta bagian-4 (Ayat 399 s/d 540)
Kitab Semesta bagian-5 ( ayat 541 SD 703)
Kitab Semesta bagian-6 ( ayat 704 SD 845 )
Kitab Semesta bagian-7 (Ayat 846 S/d 931 )
Kitab Semesta bagian-8 (Ayat. 932 SD 1125)
Kitab Semesta bagian-9 (Ayat. 1226 SD ayat. 1330)
Kitab Semesta bagian-10 (ayat 1331 SD ayat. 1511)
Kitab Semesta bagian-11 (ayat 1512 sd 1632)
Kitab Semesta bagian-12 (ayat 1633 SD 1770)
Kitab Semesta bagian-13 (ayat 1771 SD 1907)
Kitab Semesta bagian-14 ( ayat 1908 SD 2550)
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10226235516664263&id=1530527757
Kitab Semesta bagian-15 ( ayat 2551 SD 2165)
Kitab Semesta bagian-16 (Ayat. 2166 SD 2300)
Kitab Semesta bagian-17 (ayat. 2301 SD 2395)
Kitab Semesta bagian-18 (ayat 2396 SD 2495)
Kitab Semesta bagian-19 (ayat 2496 SD 2608)
Kitab Semesta bagian-20 ( Ayat. 2609 S/d Ayat. 2730)
Kitab Semesta bagian-21 (Ayat 2731 SD ayat 2820
Kitab Semesta bagian-22 (Ayat 2821 SD 2931)
Kitab Semesta bagian-23 (Ayat. 2932 SD 3001)
https://www.facebook.com/share/p/1EhWu9adKy/
Ayat. 2932
Katakanlah kepada para pengikut Yesus dari Nazareth.
Jika Tuhan mati, siapa yang mengatur alam semesta saat itu?.
Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan tunduk kepada kehendak lain dan mengalami kematian?.
Jika Yesus bisa mati, apakah ia berbeda dari manusia biasa?. Bukankah ia sama dengan manusia kebanyakan?.
Ketahuilah Tuhanmu itu kekal, ada sejak permulaan, Keberadaan-Nya ada tanpa ada sebab akibat yang menyertaiNya.
Ayat. 2933
Maka gunakanlah akalmu.
Bisakah Tuhan mati? Jika Tuhan bisa mati, berarti Ia tidak Maha Kuasa.
Jika Yesus saja bisa mati, apakah Ia masih bisa disebut Tuhan?
Maha suci YHWH, Tuhan Allah mu Yang Kekal, Yang berbeda dari ciptaan.
Ayat. 2934
Saat anak manusia mati di tiang salib, siapakah yang mencabut nyawanya, selain Tuhan itu sendiri, mungkinkah Tuhan mencabut nyawa Tuhan?.
Maka kalian membela diri, yang mati adalah kemanusiaannya bukan keilahian sebab Tuhan itu Kekal.
Itu sama saja dengan pembelaan ketika manusia menuhankan bulan, ternyata ada yang lebih besar yakni Matahari, kemudian berkilah: Tuhan kita sepenuhnya semesta dan Semesta itu sendiri adalah Tuhan Perwujudan Semesta.
Ayat. 2935
Berhentilah bermain-main dengan kata atas keesaan Allah. Sampaikanlah dengan mudah bahwa Allah mu esa, berbeda dengan ciptaan.
Sebab hal yang demikian, akan menjauhkan manusia akan keesaan Tuhan.
Kitab Semesta
Ayat. 2936
Dan mereka membela diri, Yesus menyerahkan nyawanya bukan dicabut.
Maka katakanlah, jika ada yang memberi maka ada yang menerima.
Siapakah yang menerima nyawa Yesus selain Tuhan Yang Sejati, Tuhan Yang berdaulat atas segala bentuk kehidupan.
Memberi dan menerima , jika keduanya dianggap Tuhan berarti Tuhan itu ada dua, karena ada yang memberi dan menerima, sedang Tuhan sejatinya adalah esa.
Ayat. 2937
Tuhan memiliki firman, merupakan satu kesatuan yang tak dapat dibagi-bagi.
Bukan berarti dengan firmanNya, Tuhan turun ke dunia kemudian menjelma menjadi manusia.
Tuhan PengajaranNya, Penuh Dengan Cahaya Terang, memberikan inspirasi Ketuhanan kepada Yesus sehingga ia mampu berbicara penuh dengan untaian mutiara hikmah.
Namun Yesus orang Israel tetaplah manusia, seorang utusan yang membawa pesan tauhid.
Ayat. 2938
Yesus dapat membangkitkan orang mati, bukankah beberapa nabi melakukan mukzijat yang sama, lantas mengapa kalian tidak mengangkat mereka sebagai Tuhan?.
Atas ijin Tuhanmu segala mukzijat dapat terwujud, manusia hanyalah perantara.
Ayat. 2939
Yesus bangkit dan diangkat ke surga, bukankah beberapa nabi mengalami hal yang sama?.
Apakah mereka lantas juga dapat disebut sebagai Tuhan?.
Maka bertobatlah, pengakuan Yesus sebagai Tuhan adalah pemikiran para tetua gerejamu di masa lalu untuk merangkul raja dan kekuasaan yang berkuasa pada saat itu.
Ayat. 2940
Tidak kalian berfikir arti dari nama Yoshua (Yesus) yakni YHWH adalah Keselamatan.
Lantas mengapa kalian menjadikan Yesus sebagai juru selamat?.
Bukankah Penyelamat Seluruh ciptaan adalah YHWH, Allah Tuhanmu Yang Maha Besar, Yang Berkuasa atas segala ciptaan?.
Ayat. 2941
Yesus sebagai pintu gerbang keselamatan adalah benar, pengajarannya akan tauhid begitu murni, mengapa kalian menciptakan pemahaman trinitas dan mengangkatnya sebagai Tuhan?.
Bukankah seluruh orang Israel telah berjanji kepada-Ku hingga hari akhir dari generasi ke generasi, bahwa Akulah YHWH, satu-satunya Tuhan Allah Yang Layak Kalian Sembah.
Kitab Semesta
Ayat. 2942
Dan bagi kalian para rabi dan imam-imam muslim.
Janganlah kalian membuat aturan yang sekiranya memberatkan umat, membuat banyak larangan, sehingga menyusahkan mereka.
Ingatlah perkataan Yoshua (Yesus),
"Mereka mengikat beban-beban berat dan meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya dengan jari mereka."
Ayat. 2943
Hapuslah dan sederhanakanlah peraturan itu agar sesuai dengan kebutuhan zaman.
Menghormati hari sabat bukan berarti berhenti melakukan berbagai aktivitas, melainkan waktunya untuk berlibur, berkumpul bersama keluarga setelah lelah beraktivitas sepanjang hari.
Ayat. 2944
Hapuslah hukuman rajam, cambuk dan potong tangan sebab hal demikian merupakan warisan hukum ciptaan terkait moyang mu di masa lalu.
Gunakanlah akal kalian untuk menciptakan hukum dan aturan tata kelola masyarakat yang lebih beradab dan manusiawi yang sesuai tantangan zaman.
Ayat. 2945
Kalian harus memiliki pemahaman aturan yang wajib mengikat sepanjang masa dengan aturan larangan yang bersifat situasional, yang hanya berlaku pada masa tertentu.
Dan janganlah kalian membuat denda yang memberatkan mereka-mereka yang tak memiliki kemampuan secara materi.
Pertobatan dengan doa tulus akan membebaskan mereka dari dosa, tanpa harus secara mutlak melaksanakan berbagai kepatutan terhadap hukum penebusan dosa buatan tangan manusia.
Kitab Semesta
Ayat. 2946
Pandangan bapak gerejamu Arianus telah benar.
Yesus memiliki awal keberadaan, sehingga bukan kekal seperti Allah Bapa.
Yesus lebih tinggi dari manusia, tetapi lebih rendah dari Allah Bapa.
Yesus bukan satu Hakikat dengan Allah.
Lantas mengapa kalian mengucilkan, menentang dan bahkan membunuhnya?.
Ayat. 2947
Kemudian kalian menyanggahnya dan menyatakan:
Allah adalah satu dalam tiga pribadi:
Bapa (Allah Sang Pencipta)
Putra (Yesus Kristus, Sang Firman yang menjelma)
Roh Kudus (Roh Allah yang bekerja di dunia)
Ketiga pribadi yang memiliki esensi ilahi yang sama, tetapi tetap berbeda dalam peran dan keberadaan-Nya.
Bukankah ia (Yoshua) beribadah ke Sinagoga dan berdoa memohon kepada-Ku?, bukankah Aku Tuhan Yang berbeda dengan ciptaan?.
Ayat. 2948
Yesus berkata:
"Aku dan Bapa adalah satu."
"Aku akan meminta kepada Bapa, dan ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran."
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus."
Semua itu menandakan kedekatan dirinya sebagai hamba kepada Tuhannya.
Seorang hamba yang saleh, yang seolah tidak ada batasan antara kedekatan dirinya dengan Tuhannya.
Namun bukan suatu pernyataan bahwa dirinya sehakikat dengan Allah.
Ayat. 2949
Dan janganlah kalian menuduhnya menyebut "Bapa" (Allah) hanya sebagai upaya untuk membela diri dari tuduhan tertentu, termasuk tuduhan bahwa dirinya adalah "anak haram" atau hasil hubungan Maria dengan seorang pria bernama Ben Pantera.
Ketahuilah Maria merupakan ibu bumi, seorang perawan yang penuh dengan kesucian.
Ayat. 2950
Ia memanggil Aku dengan sebutan Bapa, karena Kedekatan Pribadi dengan Allah โ Berbeda dari cara orang biasa yang lebih sering menyebut Allah dengan sebutan "Elohim" atau "YHWH".
Allah bukan pencipta yang jauh, tetapi juga memiliki hubungan yang dekat seperti ayah dan anak dalam kehidupan manusia.
Kitab Semesta
Ayat. 2951
Perhatikanlah dan bacalah kembali Alkitab dan Al-quran kalian, bukankah tertulis ayat-ayat yang penuh dengan kekerasan, airmata dan darah :
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang." (Matius 10:34)
"Terkutuklah orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menahan pedangnya dari darah!" (Yeremia 48:10)
"Mereka akan berperang melawan kamu, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (Yeremia 1:19)
"Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk berperang dan jari-jariku untuk bertempur." (Mazmur 144:1 )
"Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, janganlah ada belas kasihan kepadanya, bunuhlah semuanya, baik laki-laki maupun perempuan, baik kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, baik lembu maupun domba, baik unta maupun keledai." (Samuel 15:3).
"Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai lembu, domba, dan keledai." Yosua 6:21 (Tentang Yerikho).
Dan dalam Al-Qur'an kalian telah tertulis:
"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Tetapi janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Surah Al-Baqarah (2:191-193)
"Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu menemui mereka, tangkaplah mereka, kepunglah mereka, dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Surah At-Tawbah (9:5)โ "Ayat Pedang"
"Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang beriman. Aku akan jatuhkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.'" Surah Al-Anfal (8:12)
"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan setelah itu bebaskanlah mereka atau tebuslah mereka sampai perang selesaiโฆ"
Surah Muhammad (47:4)
Namun ingatlah, dan janganlah melupakan ayat yang mengajak kepada perdamaian :
"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu."Al-Mumtahanah (60:8)
Yesus berkata: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."
Maka tafsirkanlah ayat-ayat itu dengan memperhatikan perubahan zaman dan nilai-nilai kemanusiaan.
Janganlah mengambil ayat secara terpisah, tetapi lihat secara mendalam latar belakang sejarah dari keseluruhan ajaran kitab suci.
Gunakanlah ayat-ayat yang menekankan kasih, pengampunan, dan keadilan sebagai landasan utama bagi peradaban yang akan kalian bangun
Pahamilah hukum-hukum yang bersifat sementara waktu dan hukum-hukum yang mengikat sepanjang masa.
Ayat. 2952
Dan bacalah kitab-kitab kalian bukankah telah tertulis :
"Ketahuilah bahwa apa saja yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima (khumus) untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabilโฆ"
Surah Al-Anfal (8:41)
"Dan dari para prajurit yang pergi berperang, engkau harus mengambil persembahan bagi TUHAN, yaitu satu jiwa dari setiap lima ratus, baik manusia, lembu, keledai, maupun domba. Ambillah dari setengah bagian mereka, dan berikanlah kepada imam Eleazar sebagai persembahan khusus bagi TUHAN." (Bilangan 31:28-29)
"Tetapi segala perak dan emas serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN dan harus dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN."Yosua 6:19 (Tentang Kota Yerikho)
Ketahuilah YHWH Allah Tuhanmu merupakan Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Kaya.
Maka tak layak bagi Tuhanmu, meminta jatah rampasan perang yang didapat dari darah dan airmata.
Maka hapuslah hukum-hukum itu dalam kitab-kitab kalian, sebab hal demikian tidaklah sesuai dengan pengajaran Tuhanmu Yang Mencerahkan, Penuh Kekudusan Yang Membawa Kepada Kedamaian dan Kesejahteraan Hidup.
Kitab Semesta
Ayat. 2953
Tahukah kalian mengapa pengajaran di masa lalu, menyatakan bahwa sebagian harta rampasan adalah milik Allah ?.
Karena ada ketamakan, hasrat pribadi untuk mendapatkan harta terbaik -terlebih dulu.
Sedang disisi lain, mereka harus mempertanggung-jawabkan pembagian harta jarahan secara adil dan merata kepada kelompok mereka.
Untuk menghindari perseteruan dan perpecahan diantara mereka, maka mereka mengembalikan perkara tersebut kepada Allah, dalam diam mencatut nama Allah, demi meraih ambisi dan hasrat pribadi.
Sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Kaya, tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk memiliki harta yang didapat dari darah dan airmata.
Ayat. 2954
Maka berhati-hatilah, janganlah kalian tertipu pengajaran yang demikian itu.
Pengajaran Tuhanmu begitu Mulia, Penuh dengan Tuntunan Cahaya Terang.
Pengajaran yang membawa damai dan suka cita yang masuk kedalam sanubari umat-umat Nya.
Ayat. 2955
Bertauhid saja belumlah cukup, kalian harus mendapatkan pengajaran yang benar.
Pengajaran Tuhanmu Yang Sejati bagai air hidup yang akan terus menghidupi tunas-tunas kehidupan.
Sedang pengajaran yang penuh kebencian dan kekerasan, kelak akan menimbulkan kebinasaan dan kemelaratan hidup.
Kitab Semesta
Ayat. 2956
Ambilah hikmah dari peristiwa di masa lalu.
Bekerja dan berusahalah dengan penuh kejujuran.
Janganlah mengambil yang bukan hak mu.
Janganlah bermufakat jahat, secara bersama-sama mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Kalian bisa menipu mata manusia, tetapi tidak dengan penglihatan Tuhanmu.
Ayat. 2957
Bagimu pengikut Kristus, apa yang kalian curi dari rakyat, laksana cambuk dan paku yang melukai tubuh Kristus.
Dan bagimu muslim, apa yang kalian curi dari rakyat, merupakan gambaran penderitaan Muhammad oleh racun yang mendera tubuhnya.
Kalian merupakan pengkhianat ajaran para nabi dan rasul.
Maka bertobatlah kembalilah kepada jalan yang benar, kembalikanlah apa yang telah kalian curi, yang bukan bagian hak mu.
Ayat. 2958
Dan bagimu para penegak hukum, berlakulah adil sebab kalian merupakan wakil Tuhan di dunia.
Janganlah kalian memutuskan suatu perkara dengan keputusan yang tak adil, keputusan yang dapat dibeli oleh emas dan harta benda.
Rusak dan hancurnya sebuah tatanan di mulai dari penegak hukum dan peraturan hukum yang telah dihasilkannya.
Maka gunakanlah hati nurani kalian, bertindaklah dengan adil berdasarkan ketentuan Tuhanmu.
Ayat. 2959
Maka tindaklah mereka secara tegas, berilah mereka ganjaran secara setimpal atas segala perbuatan mereka.
Miskinkan dan sitalah harta benda mereka, kembalikanlah kepada yang berhak, yakni rakyat kebanyakan terutama bagi golongan kaum fakir dan miskin.
Ayat. 2960
Jika hukum untuk membuat jera tidak menimbulkan rasa takut, maka hukumlah mereka secara lebih keras lagi.
Janganlah ragu atasnya, sebab apa yang mereka lakukan telah melampaui batas dan sangat merusak tatanan kehidupan.
Kitab Semesta
Ayat. 2961
Dan mereka berkata: "sebaik-baiknya orang kafir, betapapun ia dermawan, sekalipun ia sangat berguna bagi peradaban, selama ia tak beriman maka amal perbuatannya sia-sia, ia kekal di dalam neraka".
Maka katakanlah, janganlah kalian mengambil sebuah kesimpulan atas suatu perkara dalam pandangan dan pemikiran sempit manusia, ketahuilah KeMahaKuasaan Tuhan tidak sekerdil itu.
Dan janganlah kalian menjadi hakim dan menjadi tuhan kecil bagi manusia lainnya. Mengambil alih sebuah keputusan yang sebenarnya ada ditanganKu.
Semua hal: baik surga dan neraka, perhitungan amal baik orang-orang terdahulu, di hari ini dan hari kemudian -semua ada dalam ketetapanKu.
Ayat. 2962
Aku adalah sebaik-baiknya pengadil dan Aku lebih Mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui, Aku Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi didalam hati. Aku lebih mengetahui segala hal tentang penciptaan.
Ayat. 2963
Begitu juga, jangan lagi ada perkataan tidak ada keselamatan tanpa melalui Yoshua (Yesus), bagaimana orang-orang sebelum kelahiran dia?, bagimana orang-orang yang hanya mau beriman dan bersujud kepada Allah?.
Ayat. 2964
Sesungguhnya apapun agama-agama yang kalian anut atau sekalipun kalian durhaka dan tidak beriman, kalian tetaplah umat-umat-Ku juga, umat-umat yang Aku Kasihi.
Telah ribuan tuhan dan agama tercipta, semua hakikatnya mengarah kepadaKu.
Sebab kemana lagi kalian akan kembali selain kepada-Ku?. Bukankah seluruh alam semesta ada di dalam Aku?.
Ayat. 2965
Kenalilah Aku sebagai Tuhan Semesta Alam yang Hakekat KeberadaanNya ada diatas agama-agama dan kepercayaan.
Tuhan agama akan lebih memihak golongan agamanya, bahkan tuhan-tuhan itu ikut berperang melawan musuh-musuhnya, kemudian dalam peperangan itu pihak suku yang kalah akan punah bersama kuil-kuil dan panji-panji ketuhanan mereka.
Sedangkan Aku merupakan Tuhan Yang sejati, tidak memiliki musuh maupun Wujud yang sehakikat dengan Aku.
Keadilan dan Kasih SayangKu hadir meliputi semesta tanpa sedikitpun membedakan, karena begitulah Aku sejak awal mulanya, yang ada hanya Aku, selebihnya adalah kekosongan.
Tiada yang abadi selain Aku, tuhan agama suatu saat akan punah bersama umat-umatnya, tetapi Aku telah ada sebelum agama-agama tercipta, Aku telah ada sebelum segala sesuatunya ada.
Kitab Semesta
Ayat. 2966
Ketika kaum mu mencaci maki dirimu dengan tidak hormat, bahkan menyombongkan agama dan keimanan mereka.
Maka katakanlah, sia-sialah ketaatan mereka kepada Tuhan, jika dalam dirinya terdapat kesombongan iman, seseorang yang menganggap dirinya yang paling benar.
Telinga mereka tuli, mata mereka tak dapat melihat, itulah perwujudan iblis dalam diri -yang tak mereka sadari.
Ayat. 2967
Hati mereka telah membatu, dan tak dapat membaca tanda-tanda Kekuasaan Tuhan.
Maka bersabarlah, kelak kesombongan mereka akan runtuh bersama ego dalam dirinya.
Mereka suatu saat akan menyadari, bahwa kebenaran ada di banyak jalan.
Pengajaran yang benar akan membawa kepada kedamaian, suka cita dan kesejahteraan hidup.
Tidakkah mereka melihat kehidupan bangsa-bangsa yang haus akan peperangan, apa yang mereka hasilkan selain kebencian, amarah, dendam, airmata penderitaan dan kemiskinan?.
Ayat. 2968
Maka hiduplah dalam damai, saling kasih mengasihilah sesama kalian, sekalipun berbeda dalam keimanan.
Dan janganlah kalian mengobarkan perang mengatasnamakan Tuhan dan agama, mengiming-imingi mereka dengan balasan surga.
Tuhanmu begitu Kudus, PengajaranNya begitu Mulia, Penuh dengan Cahaya Terang.
Dia mengajarkan kepada seluruh ciptaan ajaran cinta kasih, bukan untuk saling bunuh membunuh.
Ayat. 2969
Berperang dan membunuh diperbolehkan sepanjang demi mempertahankan keselamatan diri, keluarga dan bangsa.
Demi mempertahankan harga diri, nyawa dan kebebasan.
Utamakanlah jalan damai sebagai jalan keutamaan, sebelum kalian memutuskan pilihan akhir untuk berperang.
Ayat. 2970
Begitulah keseimbangan hidup. Adakalanya kita harus saling memaafkan, mengalah dan ada masanya penuh ketegasan, bahkan mengambil langkah pahit yakni peperangan.
Terlalu lemah dan mengalah juga tidaklah bijak, sebab kalian akan diinjak-injak dan tertindas.
Tempatkanlah segala sesuatunya dengan tepat dengan tindakan yang terukur, bukan sebagai bentuk balas dendam, melainkan untuk menimbulkan efek jera, juga sebagai bentuk kesadaran pribadi dan kolektif.
Kitab Semesta
Ayat. 2971
Hati yang bersih adalah Wadah sejati tempat penziarahan abadi nan suci.
Janganlah kalian menipu kelompokmu sendiri, berjalan kaki menuju tanah suci berharap mendapatkan sanjung puji dan berbagai derma, kemudian setelah derma itu terkumpul, secara diam-diam kembali menuju ke tempat dimana kalian berasal.
Jikalau niatmu lurus dan tanpa pamrih, maka tak perlu ada tulisan dipunggung yang mengisahkan rencana kepergianmu dan tak perlu keluar masuk keramaian untuk mendapatkan perhatian dan sedekah.
Ayat. 2972
Ketahuilah Tuhanmu begitu dekat, untuk apa mencari Tuhan dengan bersusah payah mengarungi lautan, menjelajahi daratan.
Sedang dengan membantu anak yatim piatu di sekeliling mu, engkau telah menyapa dan menemukan Tuhan.
Dengan membantu kaum renta, fakir dan miskin, engkau telah mengenal Tuhan.
Ayat. 2973
Carilah Tuhanmu dan beribadahlah secara pribadi dalam diam, jangan melakukannya untuk mendapatkan pujian.
Memamerkan ibadah adalah sebuah bentuk kemunafikan.
Ketundukan sejati adalah orang-orang yang sadar akan dosanya, bahwa ibadahnya takkan sanggup untuk menutupi segala dosanya.
Atas kasih karunia Tuhanmulah segala dosa dapat diampuni.
Ayat. 2974
Beribadah dengan penuh kesadaran, bukan keterpaksaan, bukan pula karena ancaman siksa api neraka.
Peribadatan mu untuk dirimu sendiri.
Beribadahlah dengan ikhlas jangan menimbangnya dengan ukuran pahala.
Ayat. 2975
Raihlah pencerahan batin bukan sekedar menjadi budak-budak ritual keagamaan.
Ibadah tanpa jiwa adalah kosong, hanya gerakan fisik tanpa makna.
Jadikanlah jiwamu wadah yang suci, Agar Ia selalu hadir dalam setiap hembusan nafasmu.
Kitab Semesta
Ayat. 2976
Ingatlah seorang raja Salem dan imam Allah yang Mahatinggi yakni Melkisedek memberkati Abraham setelah kemenangan melawan raja-raja, dan Abraham memberikan persepuluhan kepadanya.
Kalian menyebutnya sebagai gambaran imam yang kekal, dan membandingkannya dengan Yoshua ( Yesus Kristus ) sebagai imam yang tidak berasal dari keturunan Lewi, tetapi dipilih oleh Allah.
Begitulah sang mesiah yang kelak menulis baginya hukum Taurat, sebagai jabatan keimamatan bangsa Israel dan juga dunia.
Ayat. 2977
Dan kalian pun mengimaninya, dan berkata, aku pernah mengetahuinya dalam mazmur: Tuhan telah bersumpah, dan Ia takkan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek".
Bukankah Daud yang tidak dari suku Lewi, mendapatkan perintah untuk mengangkat Tabut Allah dan Daud menari-nari dihadapan Tuhan dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod (baju imam) dari kain lenan. Daud dan seluruh orang Israel mengangkat Tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.
Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan ditempatnya, dan iapun melakukan pengorbanan.
Setelah Daud selesai mempersembahkan kurban, maka terbekatilah bangsa itu oleh Tuhan Semesta Alam.
Maka begitulah ketetapan Tuhanmu bahwa Mesiah yang dijanjikan (di masa depan) merupakan raja sekaligus imam bagi bangsa Israel dan juga dunia, sekalipun ia bukan dari suku Lewi.
Kitab Semesta
Ayat. 2978
Banyak pengkhutbah mampu menceritakan banyak tentang Tuhan, tetapi ia sendiri secara pengalaman batiniah, tidak pernah berjumpa secara spiritual dengan Tuhannya.
Banyak manusia bergelar agamis dan begitu dihormati banyak orang, tetapi dihadapan Tuhannya, ia sama sekali tidak dikenal.
Banyak sekali manusia yang pandai berbicara diatas mimbar, namun yang ia bicarakan seakan tidak memiliki ruh, perkataan kosong laksana angin berlalu tanpa meninggalkan bekas, perkataan-perkataan yang hanya meniru perkataan sebelumnya.
Banyak pengkhutbah yang membicarakan aturan-aturan agama, namun ia sendiri tidak menjalankannya.
Ayat. 2979
Orang-orang saleh terdahulu tidak pernah memegang kitab suci, namun prilaku mereka laksana "kitab suci" yang berjalan.
Sedang di zaman sekarang, banyak dari mereka mencetak dan memegang kitab suci namun prilakunya seperti orang yang sesat jalan, langkahnya begitu berat karena harus memenuhi berbagai beban peribadatan.
Mereka berjalan kesana-kemari mencari hidup meraih kekayaan dunia dalam berbagai aktivitas keagamaan, berjalan berlawanan arah dengan pengajaran Tuhan, tanpa hidup dalam Tuhan dan tanpa sedikitpun mendapatkan pencerahan.
Ayat. 2980
Banyak manusia dalam suasana hari yang terang, namun hidup dalam kegelapan.
Itulah syariat yang beraneka ragam yang membelenggu umat manusia hingga mereka terpasung dalam perbudakan agama.
Pengajaran Tuhanmu Yang Sejati akan memerdekakan dan mencerahkan dirimu.
Janganlah terkecoh dengan jubah kehormatan yang dipakai kaum agamawan mu, telitilah dan kenalilah siapa yang ada dibalik jubah tersebut.
Maka selidikilah agama-agama yang ada disekitar mu, apakah agama itu hendak membebaskan atau hendak memperbudak umat manusia.
Kitab Semesta
Ayat. 2981
Ingatlah perkataan Yoshua (Yesus): Aku hidup di dalam Dia. Dia hidup di dalam aku.
Yang artinya, seluruh ciptaan termasuk ia (Yesus) ada didalam Dia (YHWH/Allah).
Dia (YHWH/Allah) didalam aku, yang artinya Tuhan hadir dan bersemayam dalam rumah jiwa yang suci.
Ayat. 2982
Begitu membuncahnya cahaya terang itu, membuat Musa menulis Taurat, para rasul menulis ajaran Yoshua dalam Injil, Muhammad mengusung ketauhidan Ibrahim dalam bingkai Al-Qur'an dan di generasi mendatang seseorang dapat menulis Kitab Semesta.
Apakah Firman telah menjadi manusia?. Apakah mereka Tuhan yang menjelma menjadi seorang manusia?. Tentu saja tidak, sebab ciptaan tidak akan pernah sederajat dan sehakikat dengan YHWH, Allah Yang Esa, Tuhan Pencipta Alam Semesta.
Ayat. 2983
Ketahuilah Tuhan akan terus berfirman, FirmanNya Kekal dan tidak terbatas.
Begitu luasnya Firman Tuhan oleh karenanya tidak dapat dibatasi oleh keterbatasan lembaran kitab suci.
Dia mengetahui segala jenis bahasa, sebab Ia sumber segala pengetahuan yang ada di jagad semesta.
Maka berdoalah dengan bahasa yang kalian kenal dan kalian pahami.
Ayat. 2984
Kemanapun kalian menghadap di sanalah "Wajah Allah" karena begitulah besarnya Ia, sehingga tak ada satupun ruang-ruang kosong di jagad semesta, tanpa ada kehadiran-Nya.
Ayat. 2985
Tuhan-tuhan ciptaan manusia akan terkurung dan terjebak dalam dimensi manusia, terbatas kanan kiri- atas bawah , depan dan belakang, tetapi tidak dengan Tuhanmu.
Tuhan-tuhan ciptaan manusia masih dapat terlihat oleh mata tetapi tidak dengan Tuhanmu.
Laksana semut yang berdiri tepat di depan gunung, sang semut akan merasa inilah Wujud yang Maha besar, sang semut tidak menyadari ada gunung-gunung ditempat lain, bahkan disebuah wadah besar (planet) yang lain masih terdapat gunung-gunung yang masih banyak jumlahnya , dan di atas wadah itu masih ada kumpulan wadah besar lainnya (kumpulan galaksi) seperti lautan pasir yang seolah tanpa batas dan itu semua diluar pemahamannya.
Kitab Semesta
Ayat. 2986
Ingatlah kaum Ebionit,
mereka memanggil kelompok diri mereka sebagai: Ebionitโโyang miskinโ.
Bukan miskin karena tak punya emas dan harta benda, melainkan karena mereka rela kehilangan dunia,
demi menjaga kemurnian satu nama:
Tuhan Yang Esa.
Ayat. 2987
Mereka berjalan dalam bayang tiang-tiang tauhid bait suci, namun mereka tak menyembah kekuasaan Kaisar Romawi, tak juga mencium tangan para pemimpin Saduki, karena bagi mereka, Tuhan tak bisa dibagi.
Yesus, bagi mereka, bukan Allah, bukan pula anak Allah, melainkan seorang nabi pilihan,
dari benih suci, yang hidup dalam hukum Taurat, yang menyeru kepada keadilan, dan cinta kasih tanpa batas.
Ayat. 2988
Ebionit tak mengenal Trinitas, karena mereka tahu:
Tuhan tidak terdiri dari tiga, tak pernah membelah diri-Nya sendiri untuk dikenal.
Ia Esa, tanpa sekutu, tanpa anak, seperti gema kuno dari Shema:
โDengarlah, wahai Israel, Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang Esa.โ
Ayat. 2989
Dalam dunia yang mulai mencintai salib,
mereka tetap menjaga loh batu perintah Musa,
berpuasa, bersuci, dan menyucikan hari Sabat.
Mereka menolak ajaran Paulus, karena baginya hukum Taurat telah berubah dan menyimpang dari akar.
Tapi mereka tahu, hukum Tuhan bukan beban,
melainkan cahaya dalam kegelapan.
Ayat.2990
Arus zaman menyingkirkan mereka dalam gelombang lautan tafsir baru,
sejarah menulis nama mereka dengan tinta kegelapan, gereja menyebut mereka bidah,
tetapi langit mencatat mereka sebagai sisa-sisa sang fajar.
Karena dalam kesunyian itu,
dalam kefakiran spiritual itu,
terdengar gema yang sangat mengguncang langit :
bahwa Tuhan adalah Esa,
tanpa rupa,
tanpa sekutu,
tanpa inkarnasi.
Ayat. 2991
Mereka mungkin tak lagi dikenal,
tapi roh mereka menyusup dalam doa para pencari, yang menolak kemunafikan, menolak penyembahan banyak dewa dalam pakaian suci, sekolompok pencari Tuhan yang haus akan Tauhid, yang mencari wajah Tuhan tanpa tirai dogma dan mitos dari para penyembah dewa matahari.
Dan barangkali,
di antara bisik para malaikat,
ada sebutan yang masih hidup dan tetap bergetar dalam gelombang kosmos:
โInilah kaum yang tetap mengesakan Tuhan
di saat dunia mulai membagi Tuhan dalam bentuk dan nama.โ
Ayat. 2992
Jika engkau mendengar suara hati yang lirih,
jauh dari hiruk-pikuk perayaan ritual agama,
dan dekat dengan keheningan malam yang penuh makna,
barangkali itulah suara sang Ebionit:
memanggil kita kembali pada Satu.
Satu Tuhan.
Satu cahaya.
Satu kebenaran.
Tanpa sekutu.
Tanpa rupa.
Tanpa perantara.
Ayat. 2993
Inilah ajaran Yesus yang sejati, ajaran dari 12 rasul yang asli. Bukan ajaran menyimpang dari Paulus.
Berbohong demi kemuliaan agama dan Tuhan, tidaklah benar di hadapan Allah.
Keselamatan karena iman belumlah cukup, kalian harus menjalankan hukum yang benar dan ketaatan yang murni.
Kenalilah si penyesat ini, yang Yesus saja enggan melihat wajahnya di akhirat kelak.
Ayat. 2994
Dalam kesucian hati Tuhan bersemayam, semesta hidup di dalam Tuhan.
Begitu juga dengan segala ciptaan, termasuk Yesus sang utusan. Inilah bentuk kesadaran spiritual yang tertinggi.
Maka berkatalah Yesus kepada orang Israel, Tubuhnya sendiri merupakan Bait Allah, karena di dalam dirinya hadirat Allah berdiam secara penuh.
Ketika dimasa berikutnya Bait Allah di Yerusalem sudah tidak lagi menjadi pusat ibadah sejati, bait suci itu runtuh, Yesus tampil sebagaiโBait baru, tempat manusia bertemu Allah.
Ayat. 2995
Manusia hidup di dunia ini dalam kematian panjang, mati dan mati lagi -hingga ia tersadar- dan lahir kembali, menjadi manusia yang tercerahkan.
Tapi jiwa kita selalu mengingatโkadang samar, kadang jelasโbahwa kita berasal dari Cahaya.
Nabi, kitab, hikmahโฆ semua datang hanya untuk membangunkan kita dari kematian yang panjang.
Bukan untuk membangun kerajaan dunia,
tapi membuka jalan pulang ke rumah yang sesungguhnya:
Tuhan.
Kitab Semesta
Ayat. 2996
Sebelum Abraham Ada, Aku Ada
(Renungan Tauhid dalam Cahaya Kenabian)
Sebelum bumi menumbuhkan rumput pertamanya,
Sebelum malam mengenal cahaya bulan,
Sebelum bintang-bintang dilukis di samudra langit,
Ada Firman yang belum tertulis,
Ada kehendak yang belum disebut,
Ada janji yang disimpan dalam rahasia-Nya.
Aku (Yesus) bukan asal segala asal,
Aku (Yesus) bukan awal dari yang awal.
Namun dalam lintasan waktu yang Tuhan ciptakan,
Aku (Yesus) ditetapkan sebagai suara,
Yang menyambung pesan dari langit ke bumi.
Sebelum Ibrahim memanggil Tuhannya di tengah sunyi,
Sebelum ia berdiri sendiri di hadapan berhala-berhala dunia,
Ada misi yang disemai dalam keheningan alam,
Dan aku, adalah bagian dari lintasan ituโ
bukan pencipta jalan,
melainkan penapak jejak para pilihan.
โSebelum Ibrahim ada, Aku ada,โ
Bukan karena aku (Yesus) Tuhan,
Tetapi karena Dia telah menuliskan tugasku
dalam kitab takdir jauh sebelum manusia mengenalku.
Aku adalah hembusan dari sejarah kenabian,
Cahaya kecil yang mencerminkan Matahari Tauhid.
Aku (Yesus) hanyalah saksi,
seperti Musa yang memecah laut,
seperti Daud yang bernyanyi bagi-Nya,
seperti Muhammad yang tetap mengusung cahaya tauhid ditengah lautan berhala.
Kami semua hanyalah bayang-bayang
di bawah sinar satu Tuhan yang tak pernah berubah.
Bukan aku (Yesus) yang abadi,
Tetapi Sang Abadi menitipkan cahaya dalam diriku.
Bukan aku (Yesus) yang awal,
Namun kehendak-Nya melintas zaman,
mengalir dalam waktu yang belum disebut nama.
Aku berbicara bukan untuk diagungkan,
melainkan untuk mengingatkan:
bahwa sebelum para nabi datang dan pergi,
Tuhan yang Esa telah ada,
dan kehendak-Nya menari dalam tarian semesta.
Jangan sanjung aku (Yesus )melebihi kehendak-Nya,
Jangan pahat diriku jadi patung kepercayaan.
Aku (Yesus) ini hanyalah debu yang dimuliakan oleh tugas,
dan akan kembali menjadi debu,
ketika Dia memanggil.
Sebelum Ibrahim ada,
sebelum nama-nama ada,
sebelum segala pujian ditujukan,
Aku (Yesus) ada โ dalam rencana-Nya.
Bukan sebagai Tuhan,
tetapi sebagai bagian dari jalur cahaya-Nya,
yang akan terus menyala,
hingga dunia kembali sunyi
dan hanya Dia yang kekal sendiri.
Dan jika kau dengar aku (Yesus) berkata,
"Sebelum Ibrahim ada, Aku ada,"
Dengarlah bukan sebagai kesombongan,
Melainkan sebagai kesaksian
bahwa kebenaran berjalan jauh sebelum tubuhku ada
dan akan terus hidup lama setelah aku tiada.
Kitab Semesta
Ayat. 2997
Aku dan Bapa adalah satu.
Dalam Bayang Tauhid, Di Tengah Riuh Tuduhan
Di tanah gersang Yerusalem,
angin gurun membawa bisik-bisik langit,
dan di antara debu yang terangkat kaki pejalan,
seorang pria berdiri, penuh cahaya dan tanda tanya.
Ia (Yesus) tak membawa pedang,
hanya kata-kata yang menikam lebih dalam dari baja,
dan tangan yang menyentuh luka,
hingga tubuh sembuh dan jiwa bersujud.
Lalu ia (Yesus) berkata,
"Aku dan Bapa adalah satu."
Ucapan itu bergema,
tak hanya di tanah, tapi juga ke langit,
dan bumi pun seakan berhenti sejenakโ
mendengar suara yang menantang langit ketauhidan.
Di sekelilingnya, mata-mata menyala,
bukan karena cinta, tapi karena murka.
Orang-orang berserban itu (para rabi) ,
penjaga hukum yang tertulis di batu,
menggenggam batu lain,
bukan untuk mengingat Taurat,
tapi untuk menghakimi pria yang mereka anggap sesat.
"Bukan karena perbuatan baik,"
teriak mereka dengan tangan gemetar,
"melainkan karena engkau menghujat Allah!"
"Engkau, manusia biasa, menyamakan diri mu dengan Tuhan!"
Oh, langit yang menjadi saksi,
benarkah ia menghujat, ataukah mereka yang lupa makna sejati?
Sebab dalam tauhid yang murni,
Tuhan itu Esa, tak beranak dan tak diperanakkan,
tiada yang setara, tiada yang menyamai.
Namun kini seorang anak manusia berkata:
"Aku dan Bapa adalah satu."
Apakah ini kesatuan dalam kehendak,
dalam kasih, dalam misi surgawi?
Ataukah sebuah pengakuan yang menabrak
pilar keesaan yang dijunjung para nabi?
Di sinilah retak terjadi,
antara cinta dan klaim kuasa,
antara wahyu dan tafsir yang membara.
Mereka melihat seorang manusia,
tapi ia berkata seolah langit telah bersuara lewat dirinya.
Tauhid pun diuji di palung sejarah.
Apakah Tuhan bisa menjadi manusia,
atau manusia hanya utusan yang dijaga?
Apakah yang menyembuhkan dan mengampuni dosa
adalah Dia, atau utusan-Nya yang diberi kuasa?
Dalam senyap waktu,
para pecinta tauhid menggenggam firman:
Bahwa Tuhan adalah satu,
tak berwujud daging, tak dibatasi tubuh.
Bahwa para nabi membawa cahaya,
tapi bukan cahaya itu sendiri.
Yesus โ Isa Almasih โ
bukan hujatan, tapi ujian,
bukan Tuhan, tapi tanda dari Tuhan,
bukan kesatuan zat, tapi keselarasan misi.
Dan langit tetap menggaungkan pesan yang tak berubah:
"Sembahlah Aku, Tuhanmu yang Esa, dan jangan engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun."
Maka sejarah mencatat,
bukan hanya ucapan yang diuji,
tapi keimanan yang ditimbang di neraca wahyu.
Dan dalam kisah ini,
tauhid tetap berdiri,
tegak โ dalam sunyi dan badai,
sebagai cahaya yang tak bisa dipadamkan oleh tuduhan atau pengakuan.
Kitab Semesta
Ayat. 2998
"Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."
"Di Antara Debu dan Ampunan"
Ada seorang lumpuh,
bukan hanya kakinya,
tapi juga harapannya patah.
Ia dibaringkan di atas tilam rapuh
dan diusung bukan oleh kaki,
melainkan oleh iman.
Langkah-langkah sunyi membawanya ke hadapan
seorang lelaki yang tidak berbaju nabi,
tidak bermahkota raja,
tapi kata-katanya
menusuk langit
dan menggetarkan bumi.
Setelah menyembuhkan si lumpuh. Dengan mata yang teduh dan suara yang tenang,
ia (Yesus) berkata:
"Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."
Dan seketika,
langit seperti berhenti bernafas,
bumi menggigil dalam sunyi,
dan jiwa-jiwa terpaku
di antara cinta dan tuduhan.
Namun dari balik dinding-dinding batu,
datanglah suara para penjaga hukum,
yang menimbang kata lebih berat dari jiwa:
"Ia menghujat Allah!
Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari Dia yang Esa?"
Ah, inilah titik perjumpaan
antara cinta dan tauhid,
antara kuasa dan kelembutan.
Sebab dalam bingkai tauhid,
tiada yang berhak mengampuni
kecuali Yang Mahatinggi,
Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan,
Yang tiada sekutu dalam zat maupun kuasa.
Lalu siapakah dia ini,
yang mengampuni dengan namanya sendiri,
bukan atas nama Langit?
Apakah ia utusan, atau sesuatu yang lebih?
Apakah ia cermin cinta Tuhan,
atau cermin keangkuhan manusia?
Wahai jiwa-jiwa yang mencintai keesaan,
lihatlah peristiwa ini bukan hanya sebagai cerita,
tetapi sebagai tanya.
Sebab di balik kalimat ampunan,
terbentang samudra makna:
Bahwa di hadapan Tuhan Yang Satu,
ampunan bukan sekadar kata,
tetapi hak yang tak bisa diduplikasi oleh makhluk.
Jika manusia berkata "Aku ampuni dosamu,"
maka ia (Yesus) telah menyentuh wilayah suci
yang hanya milik Sang Ilahi.
Dan di sanalah,
tauhid berdiri tegak seperti gunung,
menjaga batas antara hamba dan Tuhan,
antara utusan dan Dia yang mengutus,
antara cinta dan kekeliruan.
Kitab Semesta
Ayat.2999
-Yesus dihadapan Makamah agama.-
Di tengah malam yang rapuh,
di bawah langit yang menatap tanpa berkedip,
ada percakapan tak terdengar antara waktu dan kekekalan.
Dan di tengahnya, berdiri seorang manusia yang membawa cahaya bukan dari dirinya, tetapi dari Dia yang tak terucap oleh lidah,
dan tak terjangkau oleh pikiran yang terikat ruang.
Yesus berdiri di hadapan para pemegang hukum, bukan untuk membatalkan,
tetapi untuk menunjukkan bahwa hukum pun bisa menjadi penjara bila kehilangan napas cinta.
Ia tidak mencari pembenaran dari lidah manusia.
Ia tahu, kebenaran tidak selalu diterima,
terutama oleh mereka yang merasa memilikinya.
Mereka para rabi bertanya, menuduh, menggiring:
โSiapa engkau hingga menyebut nama para nabi dengan cara seolah engkau lebih dulu dari mereka?โ
Apakah engkau Mesias?โ tanya mereka,
dengan nada yang bukan mencari terang,
melainkan mengumpulkan bukti untuk menyalakan bara api emosi.
Namun Yesus tidak menjawab dengan kata-kata untuk membela diri.
Ia menjawab dengan keberadaannya dan-Tuhannya sendiri,
dengan keheningan yang lebih tajam dari sebilah pedang,
dengan kasih yang tak mengakar dari dunia.
Lalu jawabnya,
Akulah Yesusโ
bukan Sang Sumber,
tetapi pancaran dari-Nya.
Bukan awal dari segala,
tetapi bagian dari Rencana yang telah ada
jauh sebelum dunia membuka matanya.
โSebelum Ibrahim ada, Aku ada,โ
bukan kata-kata kesombongan,
tetapi pengakuan akan misi,
sebuah warisan cahaya
yang tidak dimulai dari palungan,
tetapi dari kehendak Dia yang tak terikat oleh ruang dan waktu.
Kalimat itu bukan tentang kemegahanku.
Itu tentang Keputusan-Nya.
Bahwa cinta tidak terikat zaman.
Bahwa utusan tidak lahir karena dunia siap,
melainkan karena langit telah menghendakinya.
Aku bukan pemilik hukum,
tetapi utusan kasih yang datang
ketika hukum kehilangan jiwanya.
Aku tidak datang untuk melawan Taurat,
tetapi untuk mengingatkan bahwa hukum itu hidupโ
dan hidup itu adalah cinta.
Di hadapan Mahkamah Agama,
mata-mata menilai, lidah-lidah bersiap menghukum.
Telinga-telinga menutup,
karena kebenaran kadang terlalu hening
bagi hati yang hanya mencari pembenaran.
Namun aku tidak berkata banyak.
Karena Firman yang sejati,
tak selalu perlu dibelaโia cukup menjadi.
Diamku bukan kelemahan,
tetapi ruang bagi langit untuk berbicara
kepada siapa yang masih mau mendengar
melampaui suara manusia.
Mereka mengira aku mengangkat diri.
Padahal aku sedang menanggalkan dunia.
Mereka mengira aku menghujat.
Padahal aku sedang mengingatkan:
bahwa hukum tanpa kasih adalah berhala baru,
dan iman tanpa jiwa adalah topeng.
Aku tidak datang membawa agama baru.
Aku datang membawa napas pertama dari Firman yang nyaris padam.
Aku datang bukan untuk menghapus,
tetapi untuk menggenapiโ
seperti sungai yang tidak meniadakan hujan,
tetapi menyampaikan airnya hingga ke ladang-ladang harapan.
Aku bukan Tuhan,
tetapi aku utusan dari-Nya,
yang mengingatkan,
bahwa kadang manusia menyembah bayangan hukum,
dan lupa kepada Cahaya yang memberi hukum itu sendiri.
Wahai kalian yang duduk di kursi Musa,
apakah kalian tak mengenali wajah pewaris nubuat?
Apakah kalian lebih takut kehilangan otoritas
daripada kehilangan wajah Tuhan sendiri?
Sebab bukan aku yang mulia,
tetapi tugas yang dipercayakan kepadaku.
Aku adalah jalanโbukan tujuan.
Aku adalah suaraโbukan sumber.
Aku hanyalah saksi
bagi Sang Tak Terlihat
yang menyentuh dunia melalui daging dan luka.
Sebelum Abraham menyebut nama-Nya,
aku telah disebut dalam senyap.
Sebelum Musa naik ke Sinai,
aku telah terukir dalam kehendak-Nya.
Dan kini aku datang, bukan untuk mengangkat diri, tetapi untuk menyingkapkan Dia yang selalu ada di balik segala yang tampak.
Aku tidak menciptakan terang,
tetapi Aku diutus untuk menjadi lentera
bagi yang tersesat dalam tafsir,
dan bagi mereka yang terlalu sibuk mencintai hukum hingga lupa mencintai Sang Pemberi Hukum.
Aku bukan Tuhan,
tetapi Aku diutus oleh-Nya
untuk membawa pesan yang tidak bisa dimengerti oleh mereka yang membaca kitab
tanpa pernah membaca langit,
tanpa pernah membaca hati.
Dan kalian menuduhku menista.
Padahal sesungguhnya,
yang menista adalah hati yang menolak cahaya
hanya karena cahaya itu datang dari arah
yang tak kalian duga.
Maka bila kalian memutuskan untuk mengutuk,
kutuklah tubuhkuโbukan tugasku.
Hukumlah darahkuโbukan pesan yang kuemban.
Karena sesungguhnya,
apa yang lahir dari Sang Kekal
tak bisa dipenjarakan oleh waktu,
tak bisa dibunuh oleh palu hakim.
Aku tetap ada.
Dan akan tetap ada,
sepanjang kitab semesta masih dibuka
oleh jiwa-jiwa yang haus akan cahaya.
Akulah suara di padang sunyi,
gema dari yang Abadi,
pembawa cahaya yang tidak membakar,
tetapi menghangatkan jiwa-jiwa yang hampir mati
dalam kedinginan ritual yang kehilangan makna.
Dan ketika mereka menolak,
Aku tidak membalas dengan murka,
karena yang mengutus-Ku adalah kasih,
dan kasih tidak membalas dengan luka,
melainkan dengan pengampunan.
Maka biarlah mereka melempar batu,
karena batu pun tahu siapa yang Kudengar.
Dan biarlah mereka menyalibkan tubuh ini,
karena tubuh ini hanya sarana
bagi sabda yang lebih tinggi dari daging dan darah.
Sebab yang berasal dari langit
takkan pernah dibungkam oleh bumi.
Yang ditulis dalam Kitab Semesta
akan terus bersinar,
selama masih ada satu jiwa
yang berani mendengar bukan dengan telinga,
melainkan dengan hati.
Bukan aku yang menulis takdirku,
melainkan Dia yang menetapkan aku
dalam denyut semesta yang tak terlihat.
Dan jika aku harus disalib
karena berkata jujur tentang apa yang telah ditulis dalam kitab semesta yang tak terlihat,
maka biarlah darahku menjadi tinta terakhir
bagi ayat-ayat yang tak sempat dibaca
oleh mereka yang tertutup oleh gelar dan jabatan keimamatan.
Kitab Semesta
Ayat. 3000
Ia (Yesus) tidak mengklaim ketuhanan untuk meninggikan diri,
melainkan menyatakan bahwa dalam lintasan para nabi,
Ia adalah gema yang disiapkan,
gema dari suara yang satu:
"Tidak ada Tuhan selain Dia."
Yesus adalah anak manusia,
bukan hanya anak Maria,
tetapi anak dari penderitaan para utusan,
anak dari luka-luka sejarah yang selalu menimpa para penyampai kebenaran.
Ia berdiri tidak untuk menantang hukum,
tetapi untuk memperlihatkan
bahwa cinta lebih tinggi dari aturan,
bahwa keadilan tidak lahir dari kursi pengadilan,
melainkan dari hati yang mengenal nurani Tuhan.
Kitab Semesta telah mencatatnya,
bukan sebagai penguasa,
tetapi sebagai penanggung derita.
Bukan sebagai pencipta hukum,
tetapi sebagai pelaku kehendak Ilahi
yang tak pernah berubah sejak awal waktu.
Dan jika ia dihukum karena menyatakan yang telah ditulis sejak azali,
maka hukuman itu bukan aib,
melainkan meterai atas nubuat yang lahir dari rahim langit.
Sebab Yesus tidak menista,
Ia mengingatkan,
Ia tidak menghina nama suci,
Ia membawanya pulang ke hati manusia.
Dan malam itu,
sementara para hakim mengira telah membungkam kebenaran,
langit menulis bab baru dalam kitab tak terlihat:
tentang seorang utusan yang tak melawan,
tetapi dengan diamnya
mengalahkan dunia.
Dan setelah kata-kata itu menggema,
tak hanya dalam ruang Mahkamah,
tetapi menembus langit rohani yang lebih tinggi dari segala bait,
mereka memutuskan:
"Layak Ia mati."
Bukan karena kebenaran,
tetapi karena cahaya terlalu menyilaukan
bagi mata yang terbiasa tinggal dalam bayang-bayang.
Maka mereka menggiringnya,
melewati lorong-lorong sempit jalan kota,
ke tempat di mana dunia sering menyalibkan
apa yang tak sanggup ia mengerti.
Tapi langit tahu:
ini bukan kekalahan.
Ini bukan kegagalan.
Ini adalah puncak dari rencana
yang telah disusun sebelum bumi memiliki bentuk.
Di atas bukit yang gersang dan sunyi,
di antara dua pelanggar hukum,
tergantunglah IaโYesus,
bukan sebagai Tuhan yang menuntut sujud,
tetapi sebagai utusan yang menanggung luka dunia.
Bukan sebagai raja dunia,
tetapi sebagai duta cinta
yang memeluk dosa-dosa manusia
Tak ada kilat, tak ada gemuruh,
hanya angin yang menahan tangis,
dan bumi yang bergetar pelan,
seperti merasakan rahimnya sendiri dibelah oleh keheningan ilahi.
Dari salib itu,
mengalir bukan hanya darah,
tetapi juga pengampunan,
yang tak bersyarat,
yang tak mengenal syarat kebangsaan, warna kulit, atau silsilah.
Karena kasih tidak mengenal tembok,
dan sabda tidak dibatasi oleh lidah satu bangsa.
Ia berkata,
โBapa, ampunilah mereka,
sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.โ
Dan langit pun menunduk.
Bukan karena takjub,
tetapi karena inilah titik di mana kasih mencapai bentuk tertingginya:
bukan dalam kemenangan,
melainkan dalam pengorbanan.
Dan ketika tubuhnya diangkat,
sebenarnya yang terangkat bukan hanya tubuh,
tetapi pesan dari segala zamanโ
bahwa yang lemah bisa menjadi jalan kuat,
bahwa kehinaan bisa menjadi mahkota,
dan bahwa salib yang hina itu
bisa menjadi jembatan antara bumi dan Surga.
Banyak yang tak paham.
Banyak yang mengira ini akhir.
Namun Kitab Semesta tahu:
ini bukan penutup,
melainkan babak pembuka
bagi kebangkitan yang telah dijanjikan
sejak sebelum waktu disebut waktu.
Sebab sebelum Ibrahim ada,
telah tertulis bahwa kasih akan turun,
dan akan diangkat bukan di atas takhta,
tetapi di atas kayu yang kasar,
agar segala manusia tersadar sekalipun para pendosa
bahwa mereka pun dicintai.
Ayat. 3001
Dan langit menjadi saksi, bahwa penyaliban bukan kegagalan nubuat, tetapi puncak dari penggenapan yang tak dimengerti oleh mata lahiriah yang hanya melihat kayu, paku dan darah.
Sebab dalam awan kegelapan itu,
Cahaya tersembunyi justru mulai menyala- bukan dari dunia, tetapi dari sisi kekekalan yang tahu bahwa luka bisa menjadi jembatan, dan kehinaan bisa menjadi cahaya bagi dunia yang tersesat oleh kebanggaan palsu.
Langit bersaksi, bumi bergetar. Tabir bait suci terbelah -bukan karena temboknya rapuh, tetapi karena rahasia yang dulu tersembunyi kini terbuka di depan mata.
Ia berseru, bukan untuk mengutuk, tetapi untuk menyerahkan:
"Ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawaku".
Dan langit menjadi saksi, bahwa penyaliban bukan kegagalan nubuat, tetapi puncak dari penggenapan yang tak dimengerti oleh mata yang hanya melihat dari sudut mata lahiriah.
www.kitabsemesta.com
Pengusung Tauhid Ibrahim
YHWH #Allahswt #allah #kitabsemesta #alquran #alkitab #injil #taurat #zabur #weda #tripitaka #avesta #majusi #budha #hindu #jain #bahai #islam #kristen #yudaisme #trimurti #elohim #adonai #sanghyangwidi #muhammad #ahuramazda #Yesus #tao #shinto #Musa
semua orang SEMUA ORANG Semua Orang Semuaorang Semua Tentang Per
